Senin, 12 Mei 2014

ACARA II
KADAR LENGAS TANAH

I.       TUJUAN
1.      Agar mahasiswa dapat membandingkan masing-masing metode penentuan kadar lengas pada berbagai contoh tanah.
2.      Agar mahasiswa dapat memperkirakan keuntung dan kerugian masing-masing metode penentuan kadar lengas.
3.      Agar mahasiswa dapat membandingkan kadar lengas tanah masing-masing contoh tanah pada setiap metode penentuan kadar lengas.
4.      Agar mahasiswa dapat menjelaskan factor-faktor yang menjadi penyebab perbedaan nilai kadar lengas tanah pada masing-masing contoh tanah.
5.      Agar mahasiswa dapat mengetahui manfaat yang dapat diperoleh dengan mengetahui kadar lengas tanah.

II.    DASAR TEORI
Lengas tanah adalah air yang terdapat dalam tanah yang terikat oIeh berbagai kakas (matrik,osmosis, dan kapiler). Kakas ini meningkat sejalan dengan peningkatan permukaan jenis zarah dan kerapatan muatan elektrostatik zarah tanah. Tegangan lengas tanah juga menentukan beberapa banyak air yang dapat diserap tumbuhan. Bagian Iengas tanah yang tumbuhan mampu menyerap dinamakan air ketersediaan (Notohadiprabowo,2006).
Apabila kandungan lengas terus berkurang sehingga tidak mampu mengimbangi kehilangan air akibat evapotranspirasi maka tanah dikatakan dalam keadaan titik layu tetap(permanent wilting point).Beberapa faktor yang memepengaruhi kandungan lengas dalam tanah antara lain anasir iklim,kandungan bahan organik, fraksi lempung tanah, topografi, dan adanya bahan penutup tanah baik organik maupun anorganik (Walker and Paul, 2002).
Jumlah air tanah yang bermanfaat untuk tanaman mempunyai batas-batas tertentu. Seperti pada kekurangan air, kelebihan air dapat merupakan kesukaran. Air yang kelebihan itu tidaklah beracun, akan tetapi kekurangan udara pada tanah-tanah yang tergenanglah yang menyebabkan kerusakan. Tanaman dapat ditanam dengan memasukkan dalam larutan air bila aerasi diberikan dengan baik (Kelly, 2002).
Dalam kaitanya dengan daya penyimpanan air, tanah pasiran mempunyai daya pengikat terhadap lengas tanah yang relative rendah karena permukaan kontak antara tanah pasiran ini didominasi oleh pori-pori mikro satu. Oleh karena itu, air yang jatuh ketanah pasiran akan segera mengalami perkolasi dan air kapiler akan mudah lepas karena evaporasi (Mukhid, 2010).

III. ALAT DAN BAHAN
1.      Contoh tanah grumusol,regosol,medirean,rendzina
2.      Mortar
3.      Aquades
4.      Cupu
5.      Oven
6.      Timbangan analitik

IV.  CARA KERJA
1.      Memperkirakan tingkat kebasahan tanah.
Perkiraan ini didasarkan atas tanda kebasahan yang tampak dan konsistensi tanah
Tingkat kebasahan
Tanda-tanda
·         Basah






·         Lembab




·         Kering
·         Pada permukaan zarah-zarah dan gumpal-gumpalan tanah tampak selaput air. Tanah mengeluarkan air pada waktu diremas atau diinjak. Setara dengan tegangan lengas 0,01 bar atau kurang (kondisi kapasitas lapangan)
·         Tanah berada diantara keadaan besah dan kering satara dengan tegangan lengas yang kurang dari 15 bar, akan tetapi tidak kurang daripada 0,01 bar.
·         Setara dengan tegangan lengas 15 bar atau lebih (titik layu permanen). Tanda-tandanya tergantung pada tekstur, bila :
-     Pasiran : Bahan galian bersifat galir (loose) dan kersai, kalau ditetesi air warna jelas bertambah gelap
-     Debuan : Bahan galian bersifat rapuh dan mendebu kalau diremas,kalau ditetesi air warnanya akan bertmbah gelap
-     Lempungan : konsistensi teguh sampai keras,tidak dapat atau sulit diremas,tanah meretak.


a.       Mengambil contoh tanah kering angin secukupnya,contoh tanah yang telah diberi sedikit air dan contoh tanah yang telah diberi air sampai kapasitas lapangan.
b.      Mengamati warna dan bentuk butiran.
c.       Meremas diantara ibu jari dan telunjuk kemudian amati kelengasanya,kelihatan,keteguhan dan kekerasannya.
d.      Membandingkan hasilnya untuk setiap kenampakan kelengasan dari masing-masing contoh yanah denhan tabel diatas
2.      Cara pengovenan
a.       Menimbang cupu
b.      Memasukan contoh tanah kedalam penimbang sampai kira-kira ¼ sampai ½
c.       Menimbang cupu berisi tanah
d.      Memasukan cupu berisi tanah kedlaam oven yang telah diatur panasnya setinggi 105-110 derajay celcius selama 4 jam
e.       Mendinginkan contoh tanah didalam cupu dalam keadaan tertutp rapat kedalam eksikator
f.       Menimbang contoh tanah didalam cupu dengan timbangan yang sama
g.      Kadar lengas (%) : (beratbasah : berat tanah ) x 100%

V.    DATA PENGAMATAN
a. Tingkat Kebasahan Tanah
Jenis Tanah
Tingkat Kebasahan
Tanda-tanda
Regosol
Kering
halus, berdebu, tidak teguh

Lembab
warnanya sangat mencolok, kasar, tidak teguh/lepas-lepas

Basah
warnanya sangat mencolok, tidak teguh, halus, lepas-lepas
Grumusol
Kering
teguh, kuat, lempung

Lembab
lengket, lempung, teguh

Basah
coklat terang, lebih lengket, tidak teguh, biasa
Mediteran
Kering
teguh, berdebu, halus

Lembab
warna lebih gelap, bergumpal, lengket

Basah
warna terang, lebih lengket
Rendzina
Kering
teguh, berdebu, halus, tidak menggumpal

Lembab
perubahan warna mencolok, lengket, lembut, teguh

Basah
agak lengket, halus, perubahan warna mencolok, tidak teguh



b. Pengovenan
Jenis Tanah
Berat Cupu (a g)
Cupu+Tanah Sebelum dikeringkan (b g)
Cupu+Tanah Sesudah dikeringkan (c g)
Kadar Lengas (%)
Regosol
7.5
48.2
 46,8
3,56 
Grumusol
7.4
27
 25,4
8,89 
Mediteran
7.3
30.8
 42
 10,75
Rendzina
7.6
45.7
 29
8,29 

Perhitungan

Grumusol = = 8,89%

Rendzina =  = 10,75 %

Regosol = = 3,56%

Mediteran = = 8,29 %

VI.                 PEMBAHASAN
Praktikum ilmu tanah hutan acara II yaitu kadar lengas yang dilakukan dilap.silvikultur intensif klebengan pada tanggal 28 April 2014. Praktikum kadar lengas mengunakan  4 jenis tanah yaitu grumusol,regosol,mediteran dan rendzina. Praktikum dilakukan dengan 2 cara yaitu memperkiraan tingkat kebasahan tanah dan pengovenan tanah.
Lengas tanah adalah air yang mengisi sebagian dan atau seluruh ruang pori tanah dan terabsorsi pada permukaan zarah tanah. Cara pengamatan tingkat kebasahan dilakukan dengan pengamatan mengunakan mata dan kedua jari tangan. Hasil pengamatan pada regosol untuk kering halus, berdebu, tidak teguh. Kondid lembab adalah warnanya sangat mencolok, kasar, tidak teguh/lepas-lepas. Pada kondisi basah warnanya sangat mencolok, tidak teguh, halus, lepas-lepas. Pada tanah rendzina kondisi kering adalah teguh, berdebu, halus, tidak menggumpal, kondisi lembab yaitu perubahan warna mencolok, lengket, lembut, teguh dan pada kondisi basah adalah agak lengket, halus, perubahan warna mencolok, tidak teguh. Pada tanah mediteran yang kondisi kering yaitu teguh, berdebu, halus, kondisi lembab warna lebih gelap, bergumpal, lengket dan pada kondisi basah yaitu warna terang, lebih lengket. Tanah grumusol pada kondisi kering yaitu teguh, kuat, lempung, kondisi lembab yaitu lengket, lempung, teguh dan kondisi basah yaitu coklat terang, lebih lengket, tidak teguh, biasa. Pengamatan dari tingkat kebasahan ini kelebihannya kita dapat mengetahui cirri-ciri tanah secara langsung dan lebih efisien.
Pengamatan dengan cara pengovenan, hal-hal yang dilakukan adalah menimbang cupu (a), cupu+ tanah (b) dan cupu+tanah sudah dioven (c). Selanjutnya cupu +tanah dioven selama 4 jam atau lebih selanjutnya dihitung ((b-c): ((c-a)) x 100% maka hasil yang didapat yaitu tanah regosol 3,56%,tanah grumusol 8,89%,tanah rendzina 10,75% dan tanah mediteran 8,29%.
Pengamatan pada masing-masing contoh tanah berbeda kadar lengasnya, hal tersebut dapat dipengaruhi oleh beberapa factor yaitu tekstur tanah, struktur tanah,bahan organic, jenis koloid,macam kation yang diserap, pori-pori tanah,iklim dan fraksi penyususn tanah. Tekstur tanah kadar lengas tanah, bertekstur halus lebih besar kadar lengasnya daripada tanah bertekstur kasar. Bahan organic, kadar lengas  pada tanah bahan organic tinggi, lebih besar  dari tanah berbahan organic rendah. Tanah dengan pori-pori makro lebih banyak kadar lengasnya sehingga kurang mampu menyimpan air sedangakan factor iklim mempengaruhi karena dalam daerah hujan yang curah hujannya tinggi maka dapat dikatakan kadar airnya tinggi karena cadangan air tersuply terus menerus. Sedangkan sifat yanah dipengaruhi oleh palstitas kembang dan kerut tanah, konsistensi,kepadatan dan aerasi. Aerasi, kadar lengas makin tinggi maka aerasi semakin jelek.
Manfaat dengan mengetahui kadar lengas adalah untuk pengolahan lahan, engan mengetahui kadar lengas tanah maka kita dapat menentukan baik tau buruk suatu tanah untuk diolah maka diperlukan cara yang cocok. Penentuan kisaran tanamanan didalam tanah rekasi kimia dan fisika yang terjadi selalu melibatkan air sebagai media pelarut . Pemupukan tanah yang subur diperlukan pupuk samping, pengairan dan pengolahn sehingga dengan mengetahu kadar lengas tanah maka kita dapat menentukan jenis pupuk apa ang cocok digunakan.

VI.             KESIMPULAN
Hasil praktikum ilmu tanah hutan  acara II yaitu Kadar Lengas adalah sebagai berikut :
1.      Metode penentuan kadar lengas dengan 2 cara yaitu cara perkiraan tingkat kebasahan dengan menetaskan air dan dilihat reaksi dan permukaan tanah. Cara pengovenan dengan membandingkan berat tanah sebelum dan sesudah dioven.
2.      Metode perkiraan tingkat kebasahan memiliki keuntungan cepat dan efisien kelemahannya hasil yang diperoleh subyektif metode pengovenan kelebihannya hasil yang didapat lebih obyektif dan kelemahannya memerlukan waktu yang lama.
3.      Kadar lengas tanah berdasarkan praktikum yang dilakukan yaitu Regosol 3,56%, grumusol 8,89%,rendzina 10,75% dan mediteran 8,29%.
4.      Faktor yang menyebabkan perbedaan nilai kadar lengas tanah adalah tekstur tanah,struktur tanah, bahan organic, jenis koloid,macam kation yang diserap, fraksi penyususn pori-pori dan iklim.
5.      Manfaat mengetahui kadar lengas adalah agar kita mengetahui langkah apa yang akan  diterapkan dalam pengolahan tanah agar hasil maksimal



VII.                      DAFTAR PUSTAKA

Kelly,J.F.2002.Hoticultural Crops As Source Of Protein And Amino        Acid.Hartsci.17 :11-13
Mukhid,S.2010.Pengaruh Pemberian Lapisan Lempengan Terhadap Peningkatan Lengas Tanah   Pada Lahan Pasir.Info Pustaka Jurnal Sains Dan Teknologi. Diakses pada tanggal 30 April 2014
Nototadiprawiro,T.2006. Pembudayaan Pengolahan tanah untuk proteksi lingkungan jurnal ilmiah STILL 4 :11-16
Walker and paul.2002. Soil properties and behavior Elsevier.Amsterdam.